Hari Ini, 10 Minggu Usianya

December 16, 2008

Hari ini, tepat sepuluh minggu usia kehamilan saya. Ya, 10 minggu, dihitung dari hari pertama periode menstruasi terakhir.  Bingung?

Begini. Kehamilan sebenarnya dimulai saat ovulasi terjadi. Tepatnya, saat pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Tetapi, kita hampir tak bisa tahu dengan pasti kapan hal itu terjadi. Karenanya, dipakailah hari pertama periode menstruasi terakhir sebagai patokan menghitung usia kehamilan.

Jadi, kalau saat ini usia kehamilan saya 10 minggu, sebenarnya usia janin saya kurang dari itu. Mungkin sekitar 8 minggu.

Memasuki minggu kesepuluh ini, saya merasakan mual yang semakin bertambah. Frekuensi muntah juga meningkat. Nampaknya, saya belum melalui masa terburuk :( . Memang, minggu kesebelas hingga ketiga belas adalah puncak rasa mual dan muntah pada kehamilan. Meskipun, pada beberapa kehamilan mual dan muntah dapat terjadi hingga menjelang persalinan. *semoga saya tidak mengalami itu*

Pada kehamilan kedua ini, saya merasakan lebih banyak keluhan dibanding dengan kehamilan pertama dulu. Dulu saya hampir tak pernah muntah. Nafsu makan juga sangat baik. Sekarang, saya bisa hampir tiap hari muntah. Beberapa hari terakhir ini, nafsu makan menurun seiring dengan bertambahnya rasa mual.

Tapi, hari ini saya senang. Tadi siang saya jalan ke Grand Indonesia karena ingin makan fish n chips. Pulangnya, saya mampir di Body Shop. Saya merasa perlu beli sabun yang aromanya nggak bikin saya tambah mual. Sabun yang saya pakai sekarang, produk baru dari C***on, adalah sabun khusus untuk ibu hamil. Ternyata saya tak nyaman dengan keharumannya yang menurut saya hidung saya terlalu tajam.

Nah, saya beruntung bisa ‘menemukan’ Cranberry Shower Gel. Kenapa beruntung? Pertama, produk ini seringnya baru muncul di season tertentu. Kedua, selain nggak bikin mual, ternyata aromanya menenangkan dan membuat rasa mual berkurang. Ajaib kan? Saya sampai takjub sendiri. Mudah-mudahan ini bertahan lama, bukan cuma efek sesaat.

Positif!

November 17, 2008

Akhirnya, yang ditunggu datang juga!

Setelah harap-harap cemas selama 2 pekan terakhir, kepastian itu akhirnya saya peroleh. Tadi pagi, dua strip merah jambu muncul dengan manisnya. Awalnya, deg-degan juga. Strip yang kedua, strip yang peka terhadap adanya hormon HCG, muncul sangat samar. Setelah ditunggu selama 1-3 menit, sesuai manual, strip yang dinanti itu menjadi semakin jelas.

Sebenarnya, suami saya sangat yakin kalau ia sudah berhasil menghamili saya :D . Pasalnya, beberapa tanda sudah muncul sangat dini sejak 3 pekan terakhir. Semakin lama, tanda-tanda itu semakin meyakinkan. Bahkan, ia sudah memberitahu sulung saya bahwa dalam perut saya sudah ada calon adik bayinya.

Saya sendiri memang merasakan adanya perubahan pada tubuh saya. Tetapi saya tak berani terlalu yakin dulu. Takut kecewa. Meskipun saya sudah mulai memperhatikan asupan makanan, baca-baca web tentang kehamilan dan  berdoa khusus untuk si jabang bayi, sebagai persiapan menyambut kehamilan kedua ini.

Lagipula, dari yang pernah saya baca, tanda kehamilan pada minggu-minggu awal belumlah cukup meyakinkan.

Hmmm, mau tahu tanda apa yang saya rasakan pekan-pekan terakhir ini?

Here we go!

  1. Heartburn, atau rasa panas di ulu hati. Keanehan pertama yang saya rasakan adalah munculnya rasa panas di ulu hati. Rasa itu bisa muncul kapan saja, tapi terutama saat lapar atau setelah makan. Selain itu, saya merasa lambung saya menghasilkan lebih banyak gas. Seringkali saya tak bisa menahan diri untuk tidak bersendawa. Akibat gas yang berlebihan itu saya juga merasa sebah, mual dan kembung. Dan karena gejala-gejala itu, saya sempat ke dokter dan didiagnosa dyspepsia. Untunglah, obatnya baru saya minum 2 kali. Kemudian saya hentikan karena berpikir bahwa ada kemungkinan gejala yang saya rasakan adalah karena saya hamil.
  2. Pusing yang tidak biasa. Suatu siang, saya merasakan kepala saya berat dan mengantuk. Saya pikir, tidur siang sebentar di mushola bisa meringankan. Nyatanya, tidak! Bangun tidur, saya sampir jatuh di kamar mandi karena perasaan melayang dan hilang keseimbangan. 
  3. Penciuman menjadi lebih peka. Pernah, saya marah-marah pada suami saya. Alasannya, menurut penciuman saya dia terlalu banyak menyemprotkan parfum pagi itu. Suami saya otomatis nggak terima karena merasa tidak menambah dosis semprotan parfumnya pagi itu. :D
  4. Rasa lelah dan mengantuk.  Beberapa pekan terakhir saya jadi lebih cepat lelah dan mengantuk.  Di atas jam 7 malam, pasti saya sudah teler berat. Mata ini rasanya diberi lem super. Walaupun, tetap saja saya tak bisa tenang memejamkan mata karena si sulung selalu sibuk mengajak saya bermain.
  5. Lebih cepat lapar. Kalau ini, sepertinya saya cuma cari pembenaran. Hehehe. Saya lebih cepat lapar, tapi tapi juga tak nyaman makan sekaligus banyak.  Setiap 2-3 jam rasanya perut saya mulai panas minta diisi (sekarang sudah bertambah dengan rasa pahit di pangkal lidah). Tapi, kalau diisi terlalu banyak perut saya terasa sebah.
  6. Lebih sering ke belakang. Nah, yang satu ini suka bikin repot! Biasanya, sebelum pulang saya selalu buang air kecil. Sekarang, ritual itu tak cukup sekali. Kalau biasanya saya ke toilet lalu mematikan komputer dan langsung turun ke lantai dasar, sekarang ritualnya menjadi: ke toilet-matikan komputer-ke toilet (lagi)-turun ke lantai dasar.

Memang, masing-masing perempuan akan merasakan gejala kehamilan yang bervariasi. Saya sendiri masih takjub menyadari bagaiman tanda-tanda itu bisa muncul sedemikian cepat. Bahkan, sebelum saya terlambat haid.

TTC Tips: Mitos atau Fakta?

November 4, 2008

“Psst, gimana sih caranya supaya bisa cepat hamil?”

Banyak saran dan masukan yang mungkin Anda dengar dari teman atau senior yang lebih dulu berkeluarga. Tapi, tidak semuanya benar secara ilmiah. Jadi, manakah yang mitos dan manakah yang fakta?

Baiklah, mari kita tinjau satu per satu!

Mitos #1

Berhubungan lebih sering memperbesar kemungkinan untuk hamil.

Faktanya:

Pabrik sperma pasangan Anda memang bekerja nonstop 24/7, tetapi proses pembentukan sebuah sel sperma membutuhkan waktu sekitar 64-72 jam.

Oleh karena itu, lakukan hubungan dengan suami Anda 2 hari sekali pada masa subur. Paling tidak, berikan jeda 24 jam untuk memberi kesempatan pabrik sperma berproduksi optimal. Jumlah sperma maksimal dapat dicapai dengan memberikan jeda 24-48 jam.  

Lalu, kapan waktu yang tepat? Waktu terbaik adalah sehari atau 2 hari sebelum hari ovulasi, kemudian pada hari terjadinya ovulasi. 

Mitos #2

Posisi misionaris adalah posisi terbaik yang mempermudah sperma mencapai sel telur.

Faktanya:

Belum ada studi yang membuktikan hal ini. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa posisi tertentu lebih mungkin menghasilkan kehamilan. Pemilihan waktu yang tepat justru menjadi faktor krusial penentu terjadinya kehamilan.

Mitos #3

Tetap berbaring (dan mengganjal pinggul dengan bantal ditambah menyandarkan kaki ke tembok)setelah behubungan membuat lebih banyak sperma masuk ke dalam serviks (leher rahim).

Faktanya

Takada salahnya mencoba, meski belum ada bukti ilmiah yang mendukung hal ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan. (I dit it! ;P) Tetap berbaring akan membuat semen tetap berada di dalam va**na lebih lama. Namun demikian, bergegas bangun setelah berhubungan juga tak masalah. Dari jutaan sperma yang dilepaskan saat ejakulasi, dapat dipastikan ada cukup banyak sperma yang tetap tinggal dalam va**na meski Anda tidak berbaring cukup lama.

Dan tahukah Anda, sperma sudah mencapai serviks (leher rahim) sesaat setelah terjadinya ejakulasi!

>>Pernah mendengar tips lain? Mitos atau fakta, ya?

TTC (Trying to Conceive)

October 30, 2008

TTC alias trying to conceive alias berusaha untuk hamil adalah salah satu topik favorit di kalangan pasangan perempuan muda yang baru saja menikah. Siapa sih, yang nggak ingin segera hamil setelah menikmati bulan madu yang indah? Terkecuali, mungkin, pasangan yang ingin lebih lama punya waktu berdua saja dengan berbagai macam alasan.

Nah, sebenarnya usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk bisa segera hamil?

Sebelum membahas tips dan triknya, mari kita bahas dulu yang satu ini: Bagaimana kehamilan bisa terjadi?

Semua pasti sudah tahu, kehamilan bisa terjadi apabila sel sperma bertemu dengan sel telur. Masalahnya, sel telur hanya matang, atau siap untuk dibuahi, satu kali dalam satu bulan. Jadi kesempatan untuk hamil dalam satu siklus menstruasi hanya satu kali. Ya, saya ulangi, satu kali dalam satu bulan. Maka, kalau ada mitos yang mengatakan bahwa untuk bisa hamil kita harus sering berhubungan, jangan percaya begitu saja. Karena, yang paling penting adalah memilih waktu yang tepat, bukan seberapa banyak kita berhubungan dengan pasangan kita. It’s absolutely a matter of timing!

Lalu, kapan waktu yang tepat itu?  Jawabnya, pada saat terjadinya ovulasi. Hari-hari di sekitar waktu ovulasi inilah masa subur seorang perempuan, di mana konsepsi (pembuahan) dapat terjadi.

Pada saat ovulasi terjadi, ovarium (indung telur) mengeluarkan sebuah ovum (sel telur) yang sudah siap dibuahi ke saluran tuba falopii. Ovum ini hanya berumur 24 jam. Setelah 24 jam, ovum yang tidak dibuahi akan mati. Ya, sependek itulah kesempatan terjadinya konsepsi.

Di sisi lain, sperma memiliki masa hidup yang lebih lama. Sperma mampu hidup selama dua sampai tiga hari. Jadi, kehamilan bisa terjadi apabila penetrasi dilakukan antara tiga-hari-sebelum-ovulasi hingga satu-hari-setelah-ovulasi.

Nah, sekarang kita sudah tahu kapan waktu yang tepat. Lalu, bagaimana caranya meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan? Simak di tulisan berikutnya: TTC Tips.

Salam,

Dyan (dolphinmommy to a little lionboy, trying to conceive)

 

NB:

Saya ‘menemukan’ artikel menarik tentang proses terjadinya pembuahan. Insya Allah, saya akan update posting ini dengan tambahan ‘cerita pembuahan’ dari artikel itu.

 

UPDATE

Saya penuhi janji saya untuk cerita soal pembuahan secara lebih detail.

OK. Siap?

Masih ingat tentang ovulasi? 

Seminggu sebelum ovulasi terjadi, jumlah hormon estrogen dan progresteron dalam tubuh kita meningkat untuk mempersiapkan kondisi uterus (rahim) sebagai tempat berkembangnya ovum yang telah dibuahi. Pada saat yang sama, di dalam ovarium, ovum mulai matang dan berkembang dalam sebuah kantung berisi cairan bernama folikel.

Pada awal minggu berikutnya (sekitar hari ke-14 dari siklus 28 hari), ovulasi terjadi. Salah satu sel telur yang matang keluar dari folikel dan tersapu menjauhi ovarium menuju tuba falopii. Selama 12-24 jam berikutnya, ovum tersebut akan dibuahi jika salah satu dari 250 juta sperma pasangan kita berhasil mencapai ovum setelah melalui perjalanan panjang: vagina-serviks-rahim-tuba falopii. Hanya sekitar 400 sperma yang akan berhasil mencapai tuba falopii, dan hanya akan ada 1 sperma yang berhasil menembus membran luar ovum.  Hmm, kira-kira berapa lama ya, waktu yang dibutuhkan sperma untuk mencapai ovum?

Kemudian, apa yang terjadi?

Sepuluh sampai 30 jam kemudian, inti sel sperma akan melebur dengan inti sel ovum yang akhirnya menggambungkan materi genetika di antara keduanya. Jika sperma membawa kromosom Y, bayi Anda akan menjadi bayi lelaki. Apabila sperma membawa kromosom X, bersiaplah menyambut bayi perempuan. Selanjutnya, proses pembelahan sel akan berlangsung. Saat itulah, sebuah kehidupan telah dimulai di dalam rahim Anda.

Gambar diambil dari: www.babycenter.com