TTC (Trying to Conceive)
October 30, 2008
TTC alias trying to conceive alias berusaha untuk hamil adalah salah satu topik favorit di kalangan pasangan perempuan muda yang baru saja menikah. Siapa sih, yang nggak ingin segera hamil setelah menikmati bulan madu yang indah? Terkecuali, mungkin, pasangan yang ingin lebih lama punya waktu berdua saja dengan berbagai macam alasan.
Nah, sebenarnya usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk bisa segera hamil?
Sebelum membahas tips dan triknya, mari kita bahas dulu yang satu ini: Bagaimana kehamilan bisa terjadi?
Semua pasti sudah tahu, kehamilan bisa terjadi apabila sel sperma bertemu dengan sel telur. Masalahnya, sel telur hanya matang, atau siap untuk dibuahi, satu kali dalam satu bulan. Jadi kesempatan untuk hamil dalam satu siklus menstruasi hanya satu kali. Ya, saya ulangi, satu kali dalam satu bulan. Maka, kalau ada mitos yang mengatakan bahwa untuk bisa hamil kita harus sering berhubungan, jangan percaya begitu saja. Karena, yang paling penting adalah memilih waktu yang tepat, bukan seberapa banyak kita berhubungan dengan pasangan kita. It’s absolutely a matter of timing!
Lalu, kapan waktu yang tepat itu? Jawabnya, pada saat terjadinya ovulasi. Hari-hari di sekitar waktu ovulasi inilah masa subur seorang perempuan, di mana konsepsi (pembuahan) dapat terjadi.
Pada saat ovulasi terjadi, ovarium (indung telur) mengeluarkan sebuah ovum (sel telur) yang sudah siap dibuahi ke saluran tuba falopii. Ovum ini hanya berumur 24 jam. Setelah 24 jam, ovum yang tidak dibuahi akan mati. Ya, sependek itulah kesempatan terjadinya konsepsi.
Di sisi lain, sperma memiliki masa hidup yang lebih lama. Sperma mampu hidup selama dua sampai tiga hari. Jadi, kehamilan bisa terjadi apabila penetrasi dilakukan antara tiga-hari-sebelum-ovulasi hingga satu-hari-setelah-ovulasi.
Nah, sekarang kita sudah tahu kapan waktu yang tepat. Lalu, bagaimana caranya meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan? Simak di tulisan berikutnya: TTC Tips.
Salam,
Dyan (dolphinmommy to a little lionboy, trying to conceive)
NB:
Saya ‘menemukan’ artikel menarik tentang proses terjadinya pembuahan. Insya Allah, saya akan update posting ini dengan tambahan ‘cerita pembuahan’ dari artikel itu.
UPDATE
Saya penuhi janji saya untuk cerita soal pembuahan secara lebih detail.
OK. Siap?
Masih ingat tentang ovulasi?
Seminggu sebelum ovulasi terjadi, jumlah hormon estrogen dan progresteron dalam tubuh kita meningkat untuk mempersiapkan kondisi uterus (rahim) sebagai tempat berkembangnya ovum yang telah dibuahi. Pada saat yang sama, di dalam ovarium, ovum mulai matang dan berkembang dalam sebuah kantung berisi cairan bernama folikel.
Pada awal minggu berikutnya (sekitar hari ke-14 dari siklus 28 hari), ovulasi terjadi. Salah satu sel telur yang matang keluar dari folikel dan tersapu menjauhi ovarium menuju tuba falopii. Selama 12-24 jam berikutnya, ovum tersebut akan dibuahi jika salah satu dari 250 juta sperma pasangan kita berhasil mencapai ovum setelah melalui perjalanan panjang: vagina-serviks-rahim-tuba falopii. Hanya sekitar 400 sperma yang akan berhasil mencapai tuba falopii, dan hanya akan ada 1 sperma yang berhasil menembus membran luar ovum. Hmm, kira-kira berapa lama ya, waktu yang dibutuhkan sperma untuk mencapai ovum?
Kemudian, apa yang terjadi?
Sepuluh sampai 30 jam kemudian, inti sel sperma akan melebur dengan inti sel ovum yang akhirnya menggambungkan materi genetika di antara keduanya. Jika sperma membawa kromosom Y, bayi Anda akan menjadi bayi lelaki. Apabila sperma membawa kromosom X, bersiaplah menyambut bayi perempuan. Selanjutnya, proses pembelahan sel akan berlangsung. Saat itulah, sebuah kehidupan telah dimulai di dalam rahim Anda.
Gambar diambil dari: www.babycenter.com
Filed in Pregnancy
Tags: hamil, kehamilan, konsepsi, ovulasi, Pregnancy, trying to conceive